Thursday, February 20, 2014

Metode Tafsir Al-Qur’an yang Paling Sahih Adalah Penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an


Metode penafsiran yang paling sahih adalah penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Ayat yang di-mujmal-kan pada suatu tempat akan dibeberkan di tempat lain. Apabila metode itu tidak dapat Anda lakukan, maka tafsirkanlah dengan As-Sunnah karena As-Sunnah merupakan penjelasan bagi Al-Qur’an. Itulah inti dari metode penafsiran Al-Qur’an yang terbaik menurut buku Tafsir Ibnu Katsir, baca juga cara-cara penafsiran di blog Tafsir Ibnu Katsir.

Asy-Syafi’I r.a. berkata, “Semua perkara yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. merupakan bagian dari apa yang dipahaminya dari Al-Qur’an.”
Allah berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu menetapkan hukum di antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (an-Nisa: 105)

Oleh Karena itu, Rasulullah saw. bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur’an dan sesuatu yang serupa dengannya, yaitu (As-Sunnah).”

Apabila Anda tidak dapat menafsirkan Al-Qur’an dengan Sunnah, maka merujuklah kepada pendapat para sahabat. Mereka lebih mengetahui karena mereka melihat fakta dan kondisi kejadian Sunnah. Memereka memiliki pemahaman yang semputna, ilmu yang sahih dan amal saleh.

Al-A’mat berkata, dari Abi Wail, dari Ibnu Mas’ud. Ia berkata, “Apabila seseorang di antara kami mempelajari sepulu ayat, maka ia tidak akan melanjutkannya sebelum memahami seluruh maknanya dan mengamalkannya.”

Seperti itulah para sahabat r.a., tidak berpindah ke ayat lain sebelum mereka memahami dan mengamalkan ayat yang sebeliumnya. Di antara mereka ada yang merupakan “penerjemah Al-Qur’an” seperti Abdullah ibnu Abbas r.a, yaitu putra paman dari Rasulullah saw.. Rasulullah saw. telah mendoakan Ibnu Abbas. Beliau bersabda, “Ya Allah, pahamkanlah ia dalam agama dan ajarilah penakwilan.”

Apabila Anda tidak menemukan penafsiran Al-Qur’an di dalam Al-Qur’an, as-Sunnah, dan pendapat sahabat, maka carilah penafsiran itu dalam pendapat para tabi’in, seperti Mujahid bin Jabir, Said Ibnu Jubeir, Ikrimah, (budak Ibnu Abbas), dan para tabi’in lainnya beserta para pengikut mereka. Apabila para sahabat itu bersepakat, maka penafsiran mereka merupkan hujah. Akan tetapi, apabilla mereka beriktilaf, maka menurut sebagian pendapat bukan merupakan hujah.

Adapun penafsiran Al-Qur’an yang hanya dengan penalaran semata, maka hal itu adalah haram. Hal itu berdasarkan keterangan yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Jarir dengan sanadnya, dari Ibnu Abbas, dari Nabi. Saw., beliau bersabda,

“Barangsiapa yang berbicara tentang Al-qur’an berdasarkan penalarannya atau berdasarkan sesuatu yang tidak diketahuinya, maka bersiaplah untuk menempati neraka.”

Seperti itulah metode penafsiran Al-Qur'an yang terbaik, yang insyaAllah sudah di implementasikan di buku Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Baca juga cara menafsirkan Al-Qur'an di blog buku Tafsir Ibnu Katsir. Atau beli bukunya di toko buku online Islami.


Judul Buku: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir
Penulis: Muhammad Nasib ar-Rifa'i
Penerbit: Gema Insani
Tahub: 2011
Harga: Rp. 628.660

No comments:

Post a Comment