Hadits permulaan wahyu turun diriwayatkan oleh Imam Ahmad
bahwa Aisyah berkata, “Wahyu yang pertama turun kepada Rasulullah saw. adalah
mimpi yang benar. Tidaklah dia bermimpi melainkan datang seperti falaq shubuh.
Kemudian dia pun menjadi gemar menyendiri. Lalu dia datang ke Gua Hira. Dia
beribadah di sana beberapa malam sambil membawa bekal yang cukup. Kemudian dia
kembali menemui Khadijah untuk membawa bekal yang baru. Sehingga, beliau
dikagetkan oleh datangnya wahyu, sedangkan beliau ketika itu masih berada dalam
Gua Hira. Malaikat datang dengan tiba-tiba, lalu berkata, ‘Bacalah.” Rasulullah
saw. menjawab, ‘Aku bukanah seseorag yang pandai membaca.’ Kata Rasulullah
saw., ‘Lalu dia mengambilku, kemudian memelukku hingga aku pun merasa kepayahan.
Setelah itu, dia melepaskanku, lalu dia mengatakan, ‘Bacalah.’ Aku menjawab
lagi, ‘Aku tidak pandai membaca.’ Lalu untuk yang kedua kalinya dia memelukku
kembali sehingga aku pun merasa kepayahan. Setelah itu dia melepaskanku dan
mengatakan, “Bacalah.” Aku pun berkata lagi, ‘Ak tidak dapat membaca.’ Untuk
yang ketiga kalinya dia memelukku sehingga aku pun merasa payah. Setelah itu
dia melepaskan aku dan membacakan, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang
Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Maja Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia
mengajarkkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya.’”
Kemudia Rasulullah saw. pulang. Sekujur tubuhnya gemetar.
Setelah tiba di rumah Khadijah, dia berkata, ‘Selimutilah aku! Selimutilah
aku!’ Mereka pun segera menyelimutinya, sehingga rasa takut pun hilang dari
beliau, lalu beliau berkata, ‘Wahai Khadijah, apa yang terjadi denganku?’
Kemudian Rasulullah saw. menceritakan peristiwa itu kepada Khadijah, kemudian
mengatakan, ‘Aku sangat taku sesuatu akan menimpa diriku.’ Lalu khadijah
mengatakan kepadanya, ‘Sekali-kali tidak. Bergembiralah. Demi Allah, Allah
selamanya tidak akan menghinakan kamu. Sesungguhnya Anda adalah orang yang
paling gemar menyambungkan tali persaudaraan, berkata dengan jujur, menanggung
segala macam kesulitan orang lain, menghormati tamu, dan membantu tegaknya
kebenaran.’ Kemudian Khadijah pergi bersama beliau menemui Waraqah bin Naufal
bin Asad bin Abdil Uzza bin Qusyai.
Dia adalah putra paman Khadijah, saudara ayahnya. Dia adalah
seorang penganut Nasrani di zaman jahiliyah dan menulis sebuah kitab berbahasa
Arab dan menulis Injil dengan bahasa Ibrani sebanyak yang dikehendaki Allah.
Dia adalah seseorang yang sudah tua sekali dan matanya telah buta. Lalu
Khadijah berkata, ‘Hai anak pamanku! Dengarkanlah kisah yang akan diutarakan
oleh putra saudaramu ini.’ Waraqah bertanya, ‘Wahai anak saudaraku, apakah yang
telah engkau alami?’ Kemudian Rasulullah saw. mengabarkan kepadanya apa yang
telah dia alami. Lalu waraqah mengatakan, ‘Dia adalah Namus (Jibril) yang
pernah menjumpai Musa. Andaikan aku masih muda. Andaikan aku masih hiduo sampai
kamu diusir oleh wargamu.’ Rasulullah saw. kemdian bertanya, ‘Apakah mereka
akan mengusirku?’ Waraqah menjawab, ‘Benar. Tidak ada seorang pun yang datang
dengan membawa sesuatu yang sama dengan apa yang kamu bawa kecuali akan
dizalimi. Bila ak masih hiduo di masamu, tentu aku akan menolongmu dengan
pertolongan yang sangat kuat.’
Kemudian tidak berapa lama, Waraqah pun meninggal dan wahyu
berhenti turun. Maka Rasulullah saw. pun bersedih hati. Menurut berita yang
sampai kepada kami, kesedihan beliau itu ditandai dengan kepergian beliau di
pagi hari untuk naik ke puncak gunung. Setelah sampai di puncaknya, dengan maksud
menjatuhkan diri, Jibril pun datang dan berkata, ‘Hai Muhammad! Sesungguhnya
engkau itu benar-benar utusan Allah.’ Lalu Rasulullah saw. pun kembali tenang
dan pulang kembali. Bila wahyu terkaku kama tidak turun, beliau pun akan
melakukan hal yang sama. Yaitu pergi di pagi hari untuk melakukan hal serupa,
bila telah sampai di puncak gunung, maka Jibril segera datang dan mengatakan
hal yang sama kepada beliau.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Bukhari dan
Muslim dari jalan Zuhri.
Demikianlah kisah pertama kali turunnya wahyu Allah kepadaNabi Muhammad saw.. Dikutip dari buku Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 pada surat
al-Alaq (surah pertama yang turun di gua hira). Baca tafsir Qur’an lain sepertii
surah al-Ikhlas di blog Tafsir Ibnu Katsir. Segera dapatkan buku yang kaya akan
manfaat ini di toko buku Islam atau beli di tempat jual buku online Islam.
Judul Buku: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4 (Edisi Baru)
Penulis: Muhammad Nasib ar-Rifa'i
Penerbit: Gema Insani
Tahun: 2011
Harga: Rp. 157.165
Jumlah halaman: 844 halaman

No comments:
Post a Comment