Thursday, February 20, 2014

Inilah Kisah Permulaan Wahyu Turun (Tafsir Ibnu Katsir)


Hadits permulaan wahyu turun diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Aisyah berkata, “Wahyu yang pertama turun kepada Rasulullah saw. adalah mimpi yang benar. Tidaklah dia bermimpi melainkan datang seperti falaq shubuh. Kemudian dia pun menjadi gemar menyendiri. Lalu dia datang ke Gua Hira. Dia beribadah di sana beberapa malam sambil membawa bekal yang cukup. Kemudian dia kembali menemui Khadijah untuk membawa bekal yang baru. Sehingga, beliau dikagetkan oleh datangnya wahyu, sedangkan beliau ketika itu masih berada dalam Gua Hira. Malaikat datang dengan tiba-tiba, lalu berkata, ‘Bacalah.” Rasulullah saw. menjawab, ‘Aku bukanah seseorag yang pandai membaca.’ Kata Rasulullah saw., ‘Lalu dia mengambilku, kemudian memelukku hingga aku pun merasa kepayahan. Setelah itu, dia melepaskanku, lalu dia mengatakan, ‘Bacalah.’ Aku menjawab lagi, ‘Aku tidak pandai membaca.’ Lalu untuk yang kedua kalinya dia memelukku kembali sehingga aku pun merasa kepayahan. Setelah itu dia melepaskanku dan mengatakan, “Bacalah.” Aku pun berkata lagi, ‘Ak tidak dapat membaca.’ Untuk yang ketiga kalinya dia memelukku sehingga aku pun merasa payah. Setelah itu dia melepaskan aku dan membacakan, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maja Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya.’”

Kemudia Rasulullah saw. pulang. Sekujur tubuhnya gemetar. Setelah tiba di rumah Khadijah, dia berkata, ‘Selimutilah aku! Selimutilah aku!’ Mereka pun segera menyelimutinya, sehingga rasa takut pun hilang dari beliau, lalu beliau berkata, ‘Wahai Khadijah, apa yang terjadi denganku?’ Kemudian Rasulullah saw. menceritakan peristiwa itu kepada Khadijah, kemudian mengatakan, ‘Aku sangat taku sesuatu akan menimpa diriku.’ Lalu khadijah mengatakan kepadanya, ‘Sekali-kali tidak. Bergembiralah. Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakan kamu. Sesungguhnya Anda adalah orang yang paling gemar menyambungkan tali persaudaraan, berkata dengan jujur, menanggung segala macam kesulitan orang lain, menghormati tamu, dan membantu tegaknya kebenaran.’ Kemudian Khadijah pergi bersama beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdil Uzza bin Qusyai.

Dia adalah putra paman Khadijah, saudara ayahnya. Dia adalah seorang penganut Nasrani di zaman jahiliyah dan menulis sebuah kitab berbahasa Arab dan menulis Injil dengan bahasa Ibrani sebanyak yang dikehendaki Allah. Dia adalah seseorang yang sudah tua sekali dan matanya telah buta. Lalu Khadijah berkata, ‘Hai anak pamanku! Dengarkanlah kisah yang akan diutarakan oleh putra saudaramu ini.’ Waraqah bertanya, ‘Wahai anak saudaraku, apakah yang telah engkau alami?’ Kemudian Rasulullah saw. mengabarkan kepadanya apa yang telah dia alami. Lalu waraqah mengatakan, ‘Dia adalah Namus (Jibril) yang pernah menjumpai Musa. Andaikan aku masih muda. Andaikan aku masih hiduo sampai kamu diusir oleh wargamu.’ Rasulullah saw. kemdian bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusirku?’ Waraqah menjawab, ‘Benar. Tidak ada seorang pun yang datang dengan membawa sesuatu yang sama dengan apa yang kamu bawa kecuali akan dizalimi. Bila ak masih hiduo di masamu, tentu aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sangat kuat.’

Kemudian tidak berapa lama, Waraqah pun meninggal dan wahyu berhenti turun. Maka Rasulullah saw. pun bersedih hati. Menurut berita yang sampai kepada kami, kesedihan beliau itu ditandai dengan kepergian beliau di pagi hari untuk naik ke puncak gunung. Setelah sampai di puncaknya, dengan maksud menjatuhkan diri, Jibril pun datang dan berkata, ‘Hai Muhammad! Sesungguhnya engkau itu benar-benar utusan Allah.’ Lalu Rasulullah saw. pun kembali tenang dan pulang kembali. Bila wahyu terkaku kama tidak turun, beliau pun akan melakukan hal yang sama. Yaitu pergi di pagi hari untuk melakukan hal serupa, bila telah sampai di puncak gunung, maka Jibril segera datang dan mengatakan hal yang sama kepada beliau.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim dari jalan Zuhri.

Demikianlah kisah pertama kali turunnya wahyu Allah kepadaNabi Muhammad saw.. Dikutip dari buku Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 pada surat al-Alaq (surah pertama yang turun di gua hira). Baca tafsir Qur’an lain sepertii surah al-Ikhlas di blog Tafsir Ibnu Katsir. Segera dapatkan buku yang kaya akan manfaat ini di toko buku Islam atau beli di tempat jual buku online Islam.


Judul Buku: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4 (Edisi Baru)
Penulis: Muhammad Nasib ar-Rifa'i
Penerbit: Gema Insani
Tahun: 2011
Harga: Rp. 157.165
Jumlah halaman: 844 halaman

No comments:

Post a Comment